"Ini sebuah misi dakwah, baik fii amplopihi wa isiihi ataupun tidak, tetap jalan. Jadi tidak ada rasa ingin berhenti," jawab Hadian Mariyadi (Ketua Persaudaran Pencerita Muslim Indonesia Jawa Timur) sambil tertawa ketika ditanya soal rasa jenuh dalam berdakwah. Masya Allah.

 

Perkenalan kami dengan Kak Hadian bermula ketika gohijrah.com ikut serta mendukung pelaksanaan Ahad Ceria (kegiatan berkisah untuk anak-anak, red) yang rutin dilakukan setiap bulan di rumah salah satu ikhwan. Tetapi karena aktivitas Kak Hadian yang padat, wawancara baru bisa kami lakukan pekan lalu.

Tidak sulit menemukan rumah Kak Hadian. Beberapa warga di sekitar komplek perumahannya sudah cukup akrab dengan pria kelahiran Bandung, 39 tahun lalu itu. Tinggal menyebut namanya, warga sudah langsung menunjuk ke arah rumahnya. Wajar, Kak Hadian dikenal sebagai pribadi yang ramah dan dekat dengan anak-anak. Masya Allah.

Rumah Kak Hadian dari luar tidak berbeda dengan rumah lainnya. Tidak terlihat bahwa rumah tersebut sudah disulap menjadi taman bacaan anak-anak. Baru ketika masuk ke dalam ruang tamu, siapapun yang berkunjung baru sadar bahwa si pemilik rumah adalah orang yang bergelut di bidang pendidikan anak.

Hiasan berkarakter anak dengan rapi ditempel di dinding. Rak-rak buku warna-warni dipenuhi buku tersusun rapi di dalamnya. Tidak ada meja kursi layaknya ruang tamu pada umumnya. Hanya terdapat meja lesehan panjang untuk membaca buku. Untuk memperluas ruangan, sekat antara ruang tamu dan ruang tengahpun dihilangkan. "Yah begini kondisinya," ujar Kak Hadian saat menyambut kami. Setelah menyuguhkan makanan ringan dan minuman, Kak Hadian mulai menceritakan pengalamannya hingga bisa menjadi pengkisah Islami.

Menurut Kak Hadian, kemampuannya sekarang dimulai dari proses regenerasi yang dilakukan oleh IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah). Saat itu para anggota IMM kerap kali mendatangi setiap rumah untuk mengajak anak-anak kampung mengaji di masjid. Selain diajari membaca al-Quran, anak-anak juga diajari mengenal tauhid dan aqidah dengan metode BCM (belajar, cerita, dan mengaji). "Nah salah satu pola BCM ya mendongeng," tutur Kak Hadian.

Setelah duduk di bangku SMA, Kak Hadian diberi tugas untuk mengajar anak-anak yang masih SMP. Tugas tersebut membuat Kak Hadian mengikuti mentoring yang diberikan oleh kakak seniornya. Mulai dari mengikuti dan melihat cara mereka berkisah, membuka dan menutup acara, hingga belajar memainkan intonasi suara.

Setiap hari bertemu anak-anak yang mengaji, tidak membuat Kak Hadian langsung percaya diri. Ia tetap saja ndregeg, saat mendongeng di depan mereka. Dalam pikirannya kala itu, mendongeng itu harus idealis. Harus mampu bercerita secara runtut. Anak-anak pun harus bisa duduk sempurna. "Padahal tidak bisa begitu. Kadang yang di depan diam, tapi yang di kanan-kiri sudah mulai lari lari," kenangnya sambil tersenyum.

Untuk mengasah kemampuannya, Kak Hadian diberikan jadwal setiap Senin pekan pertama dan butuh lebih dari 100 jam dengan anak-anak untuk mendongeng. "Dari situ ada pengulangan-pengulangan hingga akhirnya kita menjadi terampil. Harus babak belur dengan anak-anak. Tidak ada yang instan." imbuhnya.

Kemampuan mendongeng Kak Hadian semakin terasah ketika kuliah. Karena aktif di organisasi kampus, bertemu banyak orang dan komunitas, ia diajak membantu program penghapusan buta aksara di Yogyakarta tahun 1999. Dengan pendekatan bercerita dan mendongeng, metodenya ternyata mudah diterima oleh banyak kalangan. Kemampuannya dalam mendongeng itu pun akhirnya menyebar dan viral kemana-mana. Ia kemudian sering diundang dalam kegiatan sosial dan acara-acara peringatan hari besar Islam. "jadi pria panggilan istilahnya," kata Kak Hadian sambil tertawa lebar.

Salah satu kejadian yang masih teringat oleh Kak Hadian adalah saat ia mengisi sebuah acara di daerah Kenjeran Surabaya. Ditengah cerita tiba-tiba lampu mati. Microphone yang digunakan pun tidak berfungsi. Kondisi gelap membuat anak-anak pun mulai ribut tak terkendali. Awalnya ia panik. Tapi dengan izin Allah, tiba-tiba muncul ide untuk mengajak anak-anak tersebut duduk melingkar. "dengarkan Kak Hadian," ujarnya menirukan komandonya saat itu. Suasana pun kembali hening dan cerita bisa dilanjutkan. Kejadian tersebut kemudian menyandarkan Kak Hadian bahwa selama yang disampaikan adalah sirah nabi dan kisah dalam al-Quran maka Allah pasti membantunya. "ya sering tiba-tiba ada ilham gitu," tuturnya.

Ketik ditanya apakah Kak Hadian pernah merasa jenuh? Kak Hadian mengatakan, "ini sebuah misi dakwah, baik fii amplopihi wa isiihi ataupun tidak, tetap jalan. Jadi tidak ada rasa ingin berhenti." Karena itu selain menerima undangan untuk mengisi kajian anak-anak, Kak Hadian juga sering kali secara sukarela mencari masjid yang memiliki santri TPQ untuk mengisi kajian secara free. Hal lain yang membuat Kak Hadian tetap semangat adalah adanya kemuliaan di sisi Allah serta kontak batin dan perasaan bahagia ketika melihat anak-anak tersenyum, terutama di wilayah-wilayah musibah.

Di tahun 2017 ini, Kak Hadian berusaha menyosialisasikan penggantian kata mendongeng dengan berkisah. Itu dilakukan setelah mendapat nasihat dari beberapa asatidz, seperti Ustadz Budi Ashari dan Ustadz Salim Fillah. Karena menurut para asatidz tersebut, kata dongeng dalam al-Quran memiliki konotasi negatif.  Seperti yang tertulis dalam al-Quran surat al-Qalam ayat 15 yang berbunyi: Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: "(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala."

Selain berdakwah dengan kisah-kisah Islami, Kak Hadian juga menjadi konsultan TK dan relawan trauma healing di Rumah Sakit Bhayangkara. Semoga Kak Hadian tetap istiqomah dalam meniti dakwah dengan memilih anak-anak sebagai target dakwahnya. Karena berkisah untuk saat ini menjadi profesi yang langka ditengah maraknya penggunaan gadget dan berkurangnya budaya cerita di kalangan anak-anak.

KOMENTAR