Pertanyaan dari Arditya di Surabaya

Assalamualaikum Ustadz, dalam hadits sawu sufufakum itu kaki harus nempel atau tidak? karena masih banyak yang risih kalau ditempelkan.

Seandainya harus menempel untuk menghadapi jamaah yang tidak mau menempel bagaimana?

Walaikumsalam

Imam Al-Bukhari dalam kitab shahih Al-Bukhari, berkata:

بَابُ إِلْزَاقِ الْمَنْكِبِ بِالْمَنْكِبِ وَالْقَدَمِ بِالْقَدَمِ فِي الصَّفِّ

“Bab: Menempelkan bahu dengan bahu dan tumit dengan tumit dalam shaf.”

Kemudian Imam Al-Bukhari mendatangkan perkataan Nu’man bin Basyir radhiyallahu anhu:

“رَأَيْتُ الرَّجُلَ مِنَّا يُلْزِقُ كَعْبَهُ بِكَعْبِ صَاحِبِهِ”

“Saya melihat seseorang dari kami menempelkan tumitnya pada tumit saudaranya.”

            Sedangkan dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam beliau bersabda:

((أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي)) وَكَانَ أَحَدُنَا يُلْزِقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَقَدَمَهُ بِقَدَمِهِ

“Tegakkan shaf kalian. Karena saya melihat kalian dari belakang punggungku.” Kata Anas: Sehingga seseorang dari kami menempelkan bahunya dengan bahu saudaranya. Dan tumitnya dengan tumit saudaranya.

            Silakan dilihat dalam Sahih Al-Bukhari, kitab (15) Al-Jama’ah wa Al-Imaamah, bab (47) nomor: 692

 

Pelajaran dari Hadis:

 

Ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari Hadis di atas yaitu:

Pertama: Nabi shallallahu alaihi wasallam memerintahkan kita menegakkan shaf. Dan makna menegakkan shaf adalah merapatkan dan meluruskannya.

Kedua: Nabi shallallahu alaihi wasallam bisa melihat para makmum dari belakang beliau. Ini karena beliau seorang Nabi, sehingga mendapat wahyu dari Allah tentang kondisi kaum muslimin yang shalat di belakang beliau. Tentunya hal ini tidak dimiliki siapa pun selain beliau.

Ketiga: Apa pun perintah dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, harus kita kerjakan. Baik perintahnya berbentuk sunnah atau wajib. Buktinya para sahabat langsung melaksanakan perintah Nabi, tanpa menanyakan ini sunnah atau wajib. Sampai Anas berkata: “Hingga seseorang dari kami menempelkan bahunya pada bahu saudaranya. Dan tumitnya pada tumit saudaranya.” Ini sekaligus gambaran yang jelas tentang cara meluruskan dan merapatkan shaf.

Keempat: Sebagian ulama’ mengatakan: Ketika seseorang tidak lurus shafnya atau tidak rapat maka shalat tidak batal. Tetapi itu sangat mengurangi kesempurnaan shalat. Namun kita lebih mengutamakan pahala yang sempurna daripada pahala yang kurang sempurna. Dan di antara sebab pahala menjadi sempurna adalah kita merapatkan shaf dan meluruskannya seperti dilakukan para sahabat.

Kelima: Para sahabat adalah manusia terbaik umat ini. Jika para sahabat, yang jauh lebih baik daripada kita, langsung menerapkan meluruskan shaf, yaitu dengan menempelkan bahu dengan bahu dan tumit dengan tumit, apakah kita, yang tidak lebih baik daripada sahabat, ogah-ogahan untuk tidak  merapatkan shaf? Siapa kita yang kemudian tidak mau mengerjakan perintah Nabi shallallahu alaihi wasallam itu?

Keenam: Bukti hakikat iman seorang Muslim kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah langsung mendengar dan mentaati. Bukan malah mengkritisi dan tidak mengamalkan Hadis Nabi. Karena ini bukan sikap seorang mukmin. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan:  ‘Kami mendengar dan kami patuh’. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An-Nuur: 51)

            Ketujuh: Pengarang “Mir’aatul Mafaatiih” berkata: Hadis ini menunjukkan secara jelas bahwa maksud menegakkan shaf dan meluruskannya adalah jika para makmum berdiri dan lurus dalam satu baris yang sama. Juga dengan menutup sela-sela di antara shaf dengan merapatkan pundak dengan pundak, serta tumit dengan tumit. Juga menunjukkan bahwa para sahabat pada zaman Nabi shallallahu alaihi wasallam biasa mengerjakan hal itu. Jadi merapatkan shaf dan meluruskannya, juga merapatkan pundak dengan pundak, dan tumit dengan tumit adalah perkara yang biasa ditetapi para sahabat generasi pertama, kemudian setelah itu kaum muslimin meremehkan hal tersebut.[1]

Kedelapan: Ada pendapat yang mengatakan: Jika seseorang yang tidak meluruskan dan merapatkan shaf maka berdosa, termasuk imam Al-Bukhari. Beliau berdalil dengan Hadis berikut:

عَنْ بُشَيْرِ بْنِ يَسَارٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّهُ قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَقِيلَ لَهُ: مَا أَنْكَرْتَ مِنَّا مُنْذُ يَوْمِ عَهِدْتَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَ: مَا أَنْكَرْتُ شَيْئًا إِلَّا أَنَّكُمْ لَا تُقِيمُونَ الصُّفُوفَ

Dari Busyair bin Yasar Al-Anshari dari Anas bin Malik: Ketika Anas datang ke kota Madinah, dia ditanya: “Apa yang engkau ingkari dari kami sejak engkau mengetahui kebiasaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam?” Anas menjawab: “Saya tidak mengingkari apa pun, hanya saja kalian tidak meluruskan dan merapatkan shaf.” (Sahih Al-Bukhari, no. 724)

            Tentunya jika tidak merapatkan dan meluruskan shaf bukan perkara yang wajib, pasti Anas tidak akan mengingkari. Wallahu a’lam.

[1] Lihat: Mir’aatul Mafaatih Syarh Misykaah Al-Mashaabiih, Ubaidullah bin Muhammad Abdussalam Al-Mubarakfuri, 4/5

 

 

KOMENTAR