Bagaimana hukum menerima dan memakan makanan dari tetangga non muslim yang mengadakan syukuran rumah baru. Jazakallahu khairan.

Jawab:

Segala puji hanya milik Allah, dan semoga shalawat beriring salam senantiasa tersampaikan kepada Rasulillah shalallahu alaihi wasallam. Amma ba’du:

Seorang muslim secara syar’i tidak masalah memakan makanan yang diberikan non muslim kepadanya selama makanannya termasuk unsur yang halal. Baik berupa roti-rotian, buah, sayur, daging, atau biji-bijian.

Kita juga boleh memakan masakan orang kafir meski selain ahlul kitab. Sebagaimana kita juga boleh mengenakan pakaian yang ditenun orang kafir, dan barang-barang yang diciptakan mereka, selama berasal dari barang-barang yang mubah.

Yang dipermasalahkan di sini adalah agama orang yang menyembelih, jika makanannya berupa daging, maka kehalalannya terbatas pada penyembelihan yang syar’i. Dan penyembelihan orang ahlul kitab adalah syar’i dan dihalalkan oleh dalil Al-Quran.

Karena itu makanan dari tetangga non muslim atau kawan-kawan non muslim, jika mereka ahlul kitab (Yahudi dan Nashrani) maka hukumnya halal selama makanannya bukan makanan yang haram seperti daging babi atau bangkai.

Ini semua berdasarkan firman Allah:

 وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ حِلٌّ لَّكُمْ

“Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu.” (QS. Al-Maidah: 5)

Sedangkan untuk selain ahlul kitab, jika makanan yang datang dari mereka berupa daging yang mereka sembelih sendiri, bukan disembelih ahlul kitab atau seorang muslim maka kita tidak boleh memakannya. Karena itu adalah bangkai. Tapi jika makanannya termasuk makanan yang mubah dan terbuat dari barang-barang mubah maka tidak masalah memakannya.

Ini merupakan kasih sayang Allah kepada kita. Dia membolehkan kita memakan makanan mereka. Dan yang dimaksud dengan “makanan” mereka adalah sembelihannya, sebagaimana ditafsirkan Ibnu Abbas dan lainnya.

Jika kita mengetahui bahwa suatu daging adalah sembelihan ahlul kitab maka daging itu halal bagi kita baik di Eropa maupun lainnya.

Intinya: Makanan dan sembelihan ahlul kitab, yaitu orang-orang Yahudi dan Nashrani, adalah halal bagi kita baik mereka dzimmi maupun harbi. Dan yang menghalalkan adalah dalil Al-Quran di atas. Kecuali kita mengetahui bahwa sembelihan ini disembelih untuk selain Allah maka ini hukumnya haram.

Atau ketika kita tahu, mereka menyembelihnya bukan dengan sembelihan yang syar’i, semisal dengan menyetrum, atau mencekik, maka ini juga haram. Adapun yang selain itu maka makanan mereka adalah halal.

Ini adalah rukhshah atau keringanan dari Allah yang diberikan kepada kita. Mari kita menerimanya dengan lapang dada. Wallaahu ta’la a’lam.

KOMENTAR