Saya adalah sebagian dari Muslimah yang sedang berhijrah. Dulu pernah melewati fase jahiliah sebelum mengenal Islam dengan baik. Singkat cerita saya hanyalah seseorang yang tenggelam dalam lautan nafsu. Saya hanyalah seorang pendosa yang ingin terus berusaha lebih baik di hadapan Sang Pencipta, orangtua, juga para sahabat.

Terkadang saya hanya bisa merenung dan memuhasabah diri tanpa ada gerak untuk berubah. Pikiran kacau, hati tak tenang. Ingin berteriak tapi tak bisa. Hati pun semakin bergejolak kala saya menyesalkan hal yang terasa tidak pantas. Ya, saya memang sudah mengetahui mana yang baik dan yang buruk tapi enggan untuk mengubah kebiasaan itu.

Suatu malam, saya bermimpi aneh. Menurut saya, itu sebuah teguran. Saya berdiri di tempat yang sangat indah seperti taman yang di kelilingi bunga-bunga, serta pepohonan yang rindang. Membuat suasananya terasasejuk. Sampai saya berharap ingin lebih lama berada di sana. Terlihat di depan saya sekelompok wanita berpakaian menutup aurat, mereka terlihat berbincang-bincang.

Saya bertanya-tanya siapa mereka, namun ketika ingin mendekat terdengar suara dahsyat yang menghalangi, hingga akhirnya saya sadarkan diri.

Malam berikutnya, mimpi itu hadir lagi, saya memasuki taman yang sama, dan lagi, bertemu dengan wanita yang menutup aurat, terlihat anggun, dan entah mengapa, saya sesenggukkan karenanya. Hingga membuat adik saya di dalam kamar terbangun dan menyadarkan saya dari tidur.

Sulit bagi saya untuk mengubah sikap tomboy menjadi sikap santun, feminim, anggun, dan lain-lain. Terkadang hasutan setan mulai bermunculan, pergolakan hati terus menerus datang dengan perubahan ini. Bahkan cibiran dari orang, teman- teman sekitar yang hampir membuat saya seringkali menangis. Dibilang sok alim lu, eh ada ustadzah atau biasanya dipanggil dengan candaan Itu jilbab atau taplak meja, gede bener.

Awalnya, caci maki itu membuat saya tersiksa, hampi goyah, tapi, ada salah seorang sahabat yang menguatkan, Hijrahlah karena Allah, cantik di mata Allah, tidaklah sama dengan cantik di mata manusia, begitu pesannya. Dia berkontribusi besar dalam perjalanan hijrah saya.

Perlahan, saya bisa menanggalkan kejahiliahan dalam diri, ikut pengajian, liqo, majelis talim, berusaha mengkaji Islam lebih jauh.

Betapa saya ingat dengan dosa-dosa kepada orangtua, sungguh saya sangat menyesal. Tak terhitung berapa kali saya membuat air mata mereka terjatuh, sungguh sangat durhaka. Teman-teman pun mulai menjauh, saya mengerti akan hal itu, tapi semangat tak pernah surut, inilah jalan yang telah saya pilih.

Seiring berlalunya waktu, saya semakin paham bahwa wanita yang menutup aurat itu, bagai mutiara yang terjaga kesucian dan iffah-nya, saya pun belajar untuk menundukkan pandangan, menjauhi tabarruj, juga bersikap lebih feminim layaknya seorang perempuan.

Semoga saja saya selalu istiqomah di jalan ini, di jalan yang diridhoi-Nya. Hijrah menuju-Nya, agar lebih dekat dengan-Nya.

Penutur: Khansya Az-Zahra

Baca kisah lainnyaPerjalanan Hijrahku

KOMENTAR