Disarikan dari kajian gohijrah.com

Jalan Diponegoro 39 Surabaya dengan pemateri Ustad Wafi Marzuki Ph.D

 

Salah satu perkara yang berbahaya bagi kaum muslimin adalah syirik. Jika seorang meninggal meski berhaji tiap tahun, meskipun bershodaqoh emas sebesar Gunung Semeru, tapi musyrik, maka terhapuslah semua amalnya. Tidak akan tersiksa sedikitpun untuk akhirat. Sebagaimana yang Allah firmankan:

 

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. An-Nisa: 48).

 

Maka jika seseorang mati dalam keadaan syirik, Allah tidak akan mengampuninya dan kekal selamanya di dalam neraka. Namun, Allah mengampuni dosa selain syirik walaupun itu dosa besar. Misal, berzina, minum khamr, atau sejenisnya.

Ada dua kemungkinan, pertama, Allah ampuni dosanya secara langsung karena keutamaan tauhidnya, atau Allah masukan ke dalam neraka sesuai dengan kadar dosa yang telah dia lakukan, tapi tidak kekal abadi di dalamnya.

 

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۖ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun. (QS. Al-Maidah: 72).

 

Dalam potongan ayat ini betapa jelas Allah tegaskan bahwa orang yang melakukan kesyirikan, diharamkan surga atasnya dan dia tidak memiliki seorang pun penolong. Meskipun dia seorang mu’mim yang banyak mendirikan shalat, shadaqoh ataupun berpuasa. Tetap saja bagi seseorang yang musrik amalnya terhapus. Wal iyadzubillah.

Kemudian Allah juga berfirman dalam Surah Az-Zumar yang berbunyi:

 

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Az-Zumar: 65).

 

Seperti yang kita ketahui bahwa Nabi Muhammad shallahu alaihi wa sallam shalat sampai bengkak kakinya, bahkan beliau bersedekah kambing dua lembah sekaligus demi Islamnya seseorang. Sampai orang itu berkata,

يا قومي أسلموا فإن محمداً يعطي عطاءً لا يخشى الفاقة

Wahai kaumku, masuk Islamlah. Sesungguhnya Muhammad ketika memberi sesuatu agar tidak takut miskin.

 

Meski demikian, seandainya beliau melakukan kesyirikan, pasti Allah hapus amal-amalnya. Kala Rasulullah saja yang seorang nabi seperti itu, lalu bagaimana dengan kita?

Lalu apakah contoh-contoh syirik? Menyembah kuburan, menjadikan seseorang sebagai perantara agar dekat dengan Allah, datang ke dukun, memakai jimat, dan masih banyak lagi contoh yang lainnya.

Nabi muhammad shallahu alaihi wa sallam pernah mengunjungi seorang sahabat, kemudian beliau melihat di bahunya ada gelang dari kuingan. Lalu beliau bertanya, “Ini gelang apa?”

Dia menjawab, “Ini untuk menyembuhkan penyakit saya, ya Rasulallah. Lalu beliau berkata, “Lepaskanlah, sesungguhnya itu tidak menambahkan kepadamu selain penyakit. Kalau engkau mati dan gelang itu masih ada padamu, maka engkau tak akan beruntung selamanya.”

Juga termasuk syirik kecil jika seseorang melakukan ibadah tidak murni untuk Allah, seperti membaca Qur’an  agar lancar usahanya, atau demi mengusir jin.

Ikhlas untuk Allah subhanahu wa ta’ala namun bertujuan untuk dunia. Ini masuk kepada syirik kecil sebagaimana yang terdapat dalam Surah Hud:

 

 

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ.أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Hud: 15-16).

 

Dalam ayat ini, masuk beberapa kelompok:

Yang pertama, orang-orang kafir dan musyrik yang melakukan kebaikan-kebaikan. Allah ganjar kebaikan itu selama di dunia namun di akhirat mereka tidak mendapatkan apa-apa.

Kedua, orang Islam yang melakukan amal akhirat tetapi bertujuan untuk dunia, seperti orang menjadi badal haji, murni untuk mendapatkan uang. Juga muadzin, atau seorang yang mengajarkan Qur’an demi mendapatkan gaji, mereka mendapatkan keuntungan dunia tapi di akhirat amalan mereka sia-sia.

Ketiga, orang yang berbuat ikhlas untuk Allah subhanallah ta’ala tetapi demi keuntungan dirinya, seperti yang disinggung di awal tadi, beramal demi sembuh dari sakitnya, demi lancar rezekinya, demi pelaris warungnya, atau semacamnya, maka mereka juga termasuk ke dalam ayat ini.

Lalu bagaimana solusinya?

Solusinya, kita boleh melakukan amalan-amalan demikian dengan niat untuk Allah, lalu jika itu tulus dan ikhlas karena Allah ta’ala, kita bertawasul dengan amal tersebut kepada-Nya. Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh tiga orang laki-laki yang terjebak di dalam gua. Masing masing dari mereka bertawasul dengan amal sholeh yang mereka miliki sehingga dengan izin Allah mereka bisa keluar dari dalam gua tersebut

Kita boleh bertawasul dengan tig hal:

Satu, dengan asmaul husna. Dua, dengan kebaikan-kebaikan kita, lalu yang ketiga dengan orang shaleh yang masih hidup. Sebagaimana yang pernah dilakukan Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam ketika Umar bin Khattab meminta izin untuk melakukan umroh kepada beliau. Beliau berkata, “Jangan lupakan kami dalam doamu.”

Kita boleh meminta didoakan oleh orang shaleh yang masih hidup bukan yang sudah mati. Bertawasul melalui orang yang sudah mati juga termasuk syirik, sebagaimana firman Allah:

 

إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ ۚ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ

Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui. (QS. Fatir: 14).

 

Semoga Allah menjauhkan kita dari kesyirikan dan menerima taubat kita jika seandainya melakukan hal tersebut tanpa sengaja. Aamiin.

KOMENTAR