Kita sungguh mafhum bahwa puasa diwajibkan bagi orang-orang mu’min. Berdasarkan apa yang telah termaktub di dalam Al-Qur’an, Surah Al-Baqoroh: 183,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 183).

Akan tetapi ada beberapa orang di kalangan umat Islam yang tidak diwajibkan baginya berpuasa. Berdasarkan firman Allah,

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah.

Dari potongan ayat di atas bisa kita uraikan sedikit lebih detail siapa saja yang tidak wajib berpuasa.

  1. Orang sakit

Bagi seseorang yang tidak dalam kondisi prima, atau dalam keadaan sakit, maka tdak wajib baginya berpuasa. Namun sakit seperti apa yang boleh meniggalkan puasa?

Ada tiga tingkatan sakit,

  1. Keadaan pertama

Sakit yang dimaksud di sini adalah sakit yang tidak membuatnya kesusahan apabila berpuasa, misal; pusing, pilek, atau sakit semacamnya. Dalam kondisi seperti ini, dia masih diharuskan berpuasa.

  1. Keadaan kedua

Apabila dia berpuasa, maka sakit yang diderita akan bertambah parah, dan fase penyembuhannya menjadi terhambat serta menjadi berat jika berpuasa. Dalam keadaan seperti ini, dia dihukumi makruh bila menjalankan puasa.

  1. Keadaan ketiga

Jika dia berpuasa maka itu akan menyusahkannya dan bisa membahayakan dirinya bahkan bisa menyebabkan kematian karena penyakit yang dideritanya. Maka dalamm kondisi seperti ini, puasa haram hukumnya.

  1. Musafir

Ini adalah keringanan bagi orang yang sedang melakukan safar atau sedang melakukan perjalanan jauh. Namun, jika dia tetap ingin melakukan puasa maka puasanya sah. Begitulan kesepakatan para ulama.

Ada beberapa pendapat dari para ulama, manakah yang lebih utama, berpuasa atau tidak ketika safar?

Orang yang safar dibagi dalam tiga keadaan,

  1. Apabila puasa itu memberatkannya untuk melakukan hal-hal baik saat safar, maka lebih utama tidak berpuasa. Sebagaimana riwayat berikut ini,

Jabir mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersafar melihat orang yang berdesak-desakan. Lalu ada seseorang yang diberi naungan. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Siapa ini?” Orang-orang pun mengatakan, “Ini adalah orang yang sedang berpuasa.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah suatu yang baik seseorang berpuasa ketika dia bersafar”.” (HR. Bukhari no. 1946 dan Muslim no. 1115).

  1. Apabila berpuasa dia tetap bisa berbuat kebaikan, maka puasa lebih utama. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Darda,

Beliau berkata, “Kami pernah keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di beberapa safarnya pada hari yang cukup terik. Sehingga ketika itu orang-orang meletakkan tangannya di kepalanya karena cuaca yang begitu panas. Di antara kami tidak ada yang berpuasa. Hanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja dan Ibnu Rowahah yang berpuasa ketika itu.” (HR. Bukhari no. 1945 dan Muslim no. 1122).

  1. Apabila berpuasa menyusahkannya, dan bisa menyebabkan kematian saat safar, maka puasa menjadi haram baginya. Sebagaimana riwayat berkut ini,

Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada tahun Fathul Makkah (8 H) menuju Makkah di bulan Ramadhan. Beliau ketika itu berpuasa. Kemudian ketika sampai di Kuroo’ Al Ghomim (suatu lembah antara Mekkah dan Madinah), orang-0rang ketika itu masih berpuasa. Kemudian beliau meminta diambilkan segelas air. Lalu beliau mengangkatnya dan orang-orang pun memperhatikan beliau. Lantas beliau pun meminum air tersebut. Setelah beliau melakukan hal tadi, ada yang mengatakan, “Sesungguhnya sebagian orang ada yang tetap berpuasa.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan, “Mereka itu adalah orang yang durhaka. Mereka itu adalah orang yang durhaka”.” (HR. Muslim no. 1114).

  1. Orang yang sudah sepuh/tua dan lemah untuk berpuasa, atau orang yang memiliki penyakit tak kunjung sembuh

Para Ulama sepakat mengenai dua orang yang ini, bahwa mereka tidak apa-apa jika tak berpuasa. Namun membayar fidyah berupa memberi makan satu orang miskin setiap harinya. Berdasarkan firman Allah,

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ

Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. (QS. Al-Baqarah: 183).

  1. Wanita hamil dan menyusui, seperti yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ شَطْرَ الصَّلاَةِ وَعَنِ الْحَامِلِ وَالمُرْضِعِ شَطْرَ الصَّوْم

 Sesungguhnya Allah meletakkan dari seorang musafir setengah shalat serta meletakkan puasa dari wanita yang hamil dan menyusui….” (HR. Abu Dawud no. 2408. Asy-Syaikh al-Albani  rahimahullah mengatakan hasan sahih dan diriwayatkan pula oleh at-Tirmidzi no. 715, an-Nasai no. 2273, serta Ibnu Majah no. 1667) 

  1. Wanita Haidh dan Nifas, sebagaimana perkataan ‘Aisyahradhiallahu ‘anha ketika ditanya Mu’adzah bintu Abdurrahman:

“Mengapa orang yang haid mengqadha puasa dan tidak mengqadha shalat?”

‘Aisyah mengatakan, “Apakah kamu seorang Khawarij? (karena orang-orang Khawarij mewajibkan mengqadha shalat, red). Dahulu kami mengalami haid lalu kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintah mengqadha shalat.” (Sahih, HR. al-Bukhari dan Muslim).

 

Inilah, golongan-golongan yang tidak diwajibkan berpuasa. Semoga bermanfaat. Wallahu musta’an.

 

Sumber: https://buletin.muslim.or.id/fiqih/yang-boleh-tidak-berpuasa-di-bulan-ramadhan

KOMENTAR