I’tikaf secara bahasa berarti melazimkan sesuatu dan menahan diri kepada hal tersebut. Secara istilah, i’tikaf adalah berdiam di masjid yang dilakukan oleh seseorang [tertentu] dengan aturan tertentu. (Subulus Salam/183)

 

وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إذَا دَخَلَ الْعَشْرُ – أَيْ الْعَشْرُ الْأَخِيرَةُ مِنْ رَمَضَانَ – شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Aisyah berkata, “Jika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah memasuki sepuluh hari -sepuluh hari terakhir dari Ramadhan- beliau mengencangkan kainnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (Shahih, Al-Bukhari/2024, dan Muslim/1174)

 

وَعَنْهَا – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا -، «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ، حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

“Darinya (Aisyah) Radhiyallahu Anha, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, hingga Allah mewafatkannya, kemudian istri-istri beliau beri’tikaf setelah itu.” (Shahih, Al-Bukhari/2026, dan Muslim/1172)

 

وَعَنْهَا – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «كَانَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إذَا أَرَادَ أَنْ يَعْتَكِفَ صَلَّى الْفَجْرَ ثُمَّ دَخَلَ مُعْتَكَفَهُ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

“Darinya (Aisyah) Radhiyallahu Anha, ia berkata, “Jika Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam hendak beri’tikaf beliau menunaikan shalat Subuh kemudian memasuki tempat i’tikafnya.” (Shahih Muslim/1173)

 

وَعَنْهَا – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «إنْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لَيُدْخِلَ عَلَيَّ رَأْسَهُ – وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ – فَأُرَجِّلُهُ، وَكَانَ لَا يَدْخُلُ الْبَيْتَ إلَّا لِحَاجَةٍ، إذَا كَانَ مُعْتَكِفًا» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ

“Darinya (Aisyah) Radhiyallahu Anha, ia berkata, “Sungguh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memasukkan kepalanya kepadaku sedangkan beliau berada di masjid, kemudian aku menyisir rambutnya, dan beliau tidak memasuki rumahnya kecuali untuk suatu keperluan, jika beliau sedang beri’tikaf.” (Shahih, Al-Bukhari/2029)

 

وَعَنْهَا قَالَتْ: «السُّنَّةُ عَلَى الْمُعْتَكِفِ أَنْ لَا يَعُودَ مَرِيضًا، وَلَا يَشْهَدَ جِنَازَةً وَلَا يَمَسَّ امْرَأَةً وَلَا يُبَاشِرَهَا، وَلَا يَخْرُجَ لِحَاجَةٍ إلَّا لِمَا لَا بُدَّ لَهُ مِنْهُ وَلَا اعْتِكَافَ إلَّا بِصَوْمٍ، وَلَا اعْتِكَافَ إلَّا فِي مَسْجِدٍ جَامِعٍ.» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَلَا بَأْسَ بِرِجَالِهِ إلَّا أَنَّ الرَّاجِحَ وَقْفُ آخِرِهِ

Darinya Radhiyallahu Anha, ia berkata, “Sunnah atas orang yang sedang beri’tikaf agar tidak menjenguk orang sakit, tidak menghadiri jenazah, tidak menyentuh wanita, tidak menjima’ istrinya dan tidak keluar kecuali untuk keperluan yang tidak bisa ia hindari, dan tidak ada i’tikaf kecuali dengan puasa, dan tidak ada i’tikaf kecuali di masjid jami’.” (HR. Abu Dawud, perawi-perawinya tidak dipermasalahkan, hanya saja menurut pendapat yang rajih hadits ini mauquf di akhirnya). Maksud akhirnya ialah mulai dari perkataan beliau, “dan tidak ada i’tikaf kecuali dengan puasa,” Ibnu Hajar berkata, “Ad-Daraquthni menegaskan bahwa hadits Aisyah hanya sampai pada perkataan, “dan tidak keluar kecuali untuk keperluan yang tidak bisa ia hindari,” sedangkan selain itu adalah perkataan orang lain. Demikian disebutkan di dalam Fath Al-Bari, oleh karena itu disebutkan di sini, akhirnya mauquf. (Hasan shahih, Abi Dawud/2473)

 

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «لَيْسَ عَلَى الْمُعْتَكِفِ صِيَامٌ إلَّا أَنْ يَجْعَلَهُ عَلَى نَفْسِهِ» رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ وَالْحَاكِمُ، وَالرَّاجِحُ وَقْفُهُ أَيْضًا

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Seseorang yang sedang beri’tikaf tidak wajib berpuasa kecuali bagi yang mewajibkannya atas dirinya.” (HR. Ad-Daraquthni dan Al-Hakim, dan yang rajih hadits ini mauquf juga). (Dhaif, Dhaif Al-Jami’/4896)

KOMENTAR