Dewasa ini banyak sekali kita disibukkan dengan urusan mengejar dunia yang fana ini. Salah satunya mengejar title kesarjanaan demi jabatan tinggi untuk mengumpulkan pundi-pundi harta. Namun sungguh disayangkan pengetahuan mengenai ilmu agama sangat minim hingga menyebabkan ibadah longgar dan banyak bolongnya. Diperparah dengan enggan untuk memperbaiki itu semua, malas menghadiri majelis taklim, malas menambah pengetahuan untuk belajar ilmu agama demi tujuan akherat.Adapun firman Allah Taala yang berkaitan dengan ilmu

Dan katakanlah,Wahai Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu. (QS. Thaaha: 114)

Ulama besar yang bernama Ibnu Hajar Al-Asqalani Asy-Syafii rahimahullah berkata :

Firman Allah Taala (yang artinya), Wahai Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu mengandung dalil yang tegas tentang keutamaan ilmu. Karena sesungguhnya Allah Taala tidaklah memerintahkan Nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam untuk meminta tambahan sesuatu kecuali (tambahan) ilmu. Adapun yang dimaksud dengan (kata) ilmu di sini adalah ilmu syari (ilmu agama). Yaitu ilmu yang akan menjadikan seorang muslim yang terbebani syariat mengetahui kewajibannya berupa masalah-masalah ibadah dan muamalah, juga ilmu tentang Allah dan sifat-sifatNya, hak apa saja yang harus dia tunaikan dalam beribadah kepada-Nya, dan mensucikan-Nya dari berbagai kekurangan. (Fath Al-Bari, 1: 141)

Bahkan ada dalil yang menjelaskan kondisi mayoritas umat islam saat ini ketika ilmu agama sudah di anak tirikan , Allah Taala berfirman

Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. (QS. Ar-Ruum: 7)

Ada tiga pendapat ulama yang menjelaskan mengenai tambahan ilmu tersebut diantaranya :

  1. Ilmu tentang Al-Quran
  2. Ilmu mengenai pemahaman
  3. Ilmu hafalan
Renungkanlah, bahwasannya ada celaaan bagi mereka yang memiliki pengetahuan ilmu dunia tinggi namun buta akan ilmu agama.Ulama besar bernama Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,

Demi Allah, salah seorang dari mereka telah mencapai keilmuan yang tinggi dalam hal dunia, di mana ia mampu memberitahukan kepadamu mengenai berat sebuah dirham (uang perak) hanya dengan membalik uang tersebut pada ujung kukunya, sedangkan dirinya sendiri tidak becus dalam melaksanakan shalat. (Tafsir Al-Quran Al-Azhim, 6: 84. Abu Ishaq Al-Huwaini menyatakan bahwa As-Suyuthi dalam Ad-Daar Al-Mantsur menisbatkan perkataan ini pada Ibnu Al-Mundzir dan Ibnu Abi Hatim)

Sebagai penutup kebahagiaan dunia akherat dapat dicapai dengan ilmu, sebagaimana hadist dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Allah sangat membenci orang jadzari (orang sombong), Jawwadz (rakus lagi pelit), suka teriak di pasar (bertengkar berebut hak), bangkai di malam hari (tidur sampai pagi), keledai di siang hari (karena yang dipikir hanya makan), pintar masalah dunia, namun bodoh masalah akhirat. (HR. Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya 72 Al-Ihsan. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini dhaif, lihat Silsilah Al-Ahadits Adh-Dhaifah, no. 2304. Adapun Syaikh Syuaib Al-Arnauth dalam tahqiq Shahih Ibnu Hibban menyatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)

KOMENTAR