Apa yang kita lakukan jika mendapati seorang ibu tua antri atm di belakang kita? Jika kita orang yang beradab, pasti mempersilahkan ibu tersebut untuk menggunakan atm terlebih dahulu. Begitu juga jika ada seorang bapak tua yang harus berdiri di dalam bus yang penuh penumpang. Lagi-lagi kita akan menjawab mempersilahkan bapak itu duduk.

 

Dapat diambil kesimpulan bahwa mempersilahkan, mendahulukan orang lain dalam suatu hal adalah kebaikan. Tapi apakah itu berlaku untuk semua hal? Ternyata tidak. Untuk masalah ibadah, kita dilarang mendahulukan orang lain. Kaidah yang umum berlaku dalam ibadah adalah

الإِيْثَارُفِي الْقُرَبِ مَكْرُوْهٌ، وَ فِي غَيْرِهاَ مَحْبُوْبٌ

“Mendahulukan orang lain dalam masalah ibadah, DIBENCI. Namun dalam masalah lainnya, DISUKAI”

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullahu, di dalam kitab beliau (Syarah Riyadhus Shalihin) mengatakan, Imam an-Nawawi rahimahullah membagi itsar menjadi 3 yaitu yang dilarang, dibenci, diperbolehkan

  • Jenis pertama, yang dilarang : yaitu engkau mendahulukan orang lain pada perkara yang wajib secara syari’at. Contohnya : jika kita mempunya air yang hanya cukup digunakan untuk berwudhu’ satu orang dan ada tem yang belum berwudhu maka kita dilarang memberikan air tersebut dan mengharuskan kita untuk bertayamum
  • Yang kedua yang dibenci: yaitu perbuatan itsar pada perkara yang mustahab (dianjurkan oleh syari’at -red). Contohnya : mempersilahkan orang lain masuk ke shaf pertama yang kita tempati
  • Jenis ketiga, yang diperbolehkan : ini hukumya adalah mubah dan terkadang bisa menjadi mustahab, yang demikian ketika kita mendahulukan orang lain pada perkara yang bukan ibadah. Contohnya : jika kita mempunyai makanan dalam keadaan lapar, sedangkan ada orang lain yang juga merasa lapar. Maka dalam kondisi yang demikian, jika kita berbuat itsar, sungguh itu adalah perbuatan terpuji.

Karena itu mari kita memperdalam ilmu agama. Duduk di majelis ilmu. Agar kita beragama tidak sekedar menggunakan perasan.

KOMENTAR