Mulai mengetik sendiri semalam suntuk hingga diancam mau disetrum karena tidak mampu penuhi jadwal pelanggan adalah sepenggal kisah M Nur Hariyadi, Owner Smile Island Digital Printing, ketika mengawali bisnisnya. 

Tapi itu tidak membuat ia mundur. Dengan izin Allah, kemudian kesabarannya, Smile Island berubah menjadi salah satu perusahaan digital printing terbaik di Surabaya dengan omzet miliaran. Yang lebih dahsyat, semua dilakukan tanpa hutang riba di bank. Masya Allah.

Perkenalan kami dengan Hari sebenarnya sudah berlangsung sejak lama. Dari komunitas anak motor. Maklum, pria kelahiran 1975 ini salah satu anggota klub motor besar di Surabaya. Qadarallah, kami baru bisa wawancara dengan Hari beberapa waktu lalu. Janjian waktu dan tempat pun telah disepakati dilakukan di Kantor Pusat Smile Printing, Jalan Ngagel Jaya, depan Kampus iSTTS. Setibanya kami di lokasi, puluhan motor customer sudah terparkir di depan kantor. Ruang parkir Smilepun tidak mampu menampung motor customer. Padahal waktu masih menunjukkan pukul 09.00.

Kondisi di dalam juga tidak kalah penuh. Meskipun telah disediakan banyak tempat duduk, banyak customer yang terpaksa berdiri. Ruangan yang sebenarnya cukup luas tersebut terlihat sempit.

“Ada yang bisa dibantu mas,” tanya customer service Smile ketika melihat kami.

“Mau bertemu mas Hari,” jawab kami. Mengetahui kami dari Gohijrah, kami langsung diarahkan menuju ke ruangan lantai dua.

Setelah melewati beberapa ruangan produksi dan desain, kami tiba di ruangan kantor Hari. Tidak seberapa luas, sekitar 3x3 saja. Tapi karena desain yang cukup moderen dengan pintu kombinasi kaca dan frame besi, ruangan tersebut terlihat lebih luas. Tidak terasa pengap.

“Assalamualaikum, gimana kabarnya,” sapa Hari akrab.

“Alhamdulillah mas. Wah rame ya di bawah,” jawab kami.

“Ya Alhamdulillah. Tiap hari masih bisa seperti itu. Disyukuri,” ujar Hari.

Setelah berbincang santai tentang aktivitas touringnya ke Kalimantan, akhirnya Hari menceritakan asal mula merintis bisnis digital printing.

Pasca lulus kuliah di tahun 1998, Hari mencoba membuka jasa pengetikan skripsi. Maklum lokasi rumahnya (sekarang menjadi kantor pusat Smile, red) persis di depan kampus iSTTS. Keluarganya sebenarnya sudah memiliki bisnis tersendiri. Tetapi skala usahanya masih mikro. Toko kelontong. “Turun temurun. Dipegang Ibu. Tapi Bapak PNS, guru agama,” ujarnya.

Di awal usaha, Hari hanya diberikan ruangan 1x3 meter oleh orang tuanya. Meskipun demikian, berbekal sebuah komputer pentium 100 dan printer dot matrix hasil lelang, Hari tetap yakin usaha pengetikannya akan terus berkembang. Yang penting yakin katanya kepada kami.

Di awal berdirinya, Hari menggunakan nama Simple Technology sebagai nama jasa pengetikannya.

Hari menceritakan, sebenarnya ia bukan orang yang ahli dalam pengetikan. Bahkan untuk urusan pengetikan yang melibatkan program excel, Hari sering diajari oleh customernya.

Demi menarik pelanggan, Hari tidak pernah menolak pesanan, meskipun ia harus mengetik hingga semalam suntuk. Bahkan waktu itu ia sampai memiliki moto, anda puas kami lemas.

“Ngetik dari pagi ketemu pagi,” ujar pria berkacamata ini.

Ketika ditanya, berapa omzet pengetikannya saat itu, ia menjawab hanya 20 ribu rupiah/bulan atau 10 persen upah minimum regional saat itu. Sebagai informasi, upah minimum tahun 1998 sekitar 200 ribu rupiah. Jika dikonversi dengan upah sekarang yang 3 juta rupiah, artinya Hari hanya mendapatkan 300 ribu perbulan.

Menurut Hari, uang sebesar itu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Meskipun ia harus kerja keras menerima pengetikan, Hari tidak absen membantu usaha warung kelontong ibunya.

“Ya tetap disuruh angkat botol kecap. Kulakan minyak di pasar. Macem-macemlah,” ujar Hari.

Qadarallah, lokasi yang strategis di depan kampus membuat usaha pengetikannya semakin ramai. Bahkan pelanggannya tidak hanya mahasiswa iSTTS, tapi hingga ke ITS. Dari situ akhirnya Hari mampu membeli printer warna ukuran A4. Dengan modal printer warna, pelanggannya pun semakin bertambah. Apalagi mahasiwa ITS sering mencetak tugas-tugas mata kuliah di tempatnya.

Pelayanan yang bagus dan harga murah membuat jasa pengetikan dan print miliknya makin ramai. Bayangkan, untuk cetak ukuran A4 di luar, diperlukan biaya 25 ribu rupiah, sedangkan jika cetak di Simple Technology hanya 7 ribu rupiah.

Dengan izin Allah, dalam 7 Tahun, Hari akhirnya bisa membeli printer out door seharga 300 juta. Ia juga akhirnya mengambil seorang karyawan untuk membantunya. Dengan kemampuan tersebut pelanggannya juga semakin bertambah. Tidak hanya dari kampus sekitar, bahkan banyak mahasiswa Petra yang datang untuk mencetak tugas kuliahnya.

“Terus nama Smile Island dari mana,” tanya kami penasaran.

Hari menjawab, nama Smile itu muncul karena ia memang sering melemparkan joke-joke kepada pelanggannya. Itu membuat hubungan dengan customernya menjadi akrab dan tersenyum. Bahkan banyak pelanggan yang sudah langganan sejak ia merintis bisnis. “Anak-anak mereka pun kalau cetak tetap disuruh kesini,” ujar Hari.

“Apa tidak pernah mengalami jatuh bangun dan kerugian?” tanya kami.

“Wah banyak mas. Ga kehitung uang saya yang masih nyantol ke orang,” jawab Hari lugas.

Beberapa pengalaman pahit yang ia kenang adalah ketika ia pernah nyaris disetrum saat tidak mampu memenuhi jadwal yang telah dijanjikan. Hari juga pernah tidak dibayar pelanggan karena hasil cetaknya kurang 2 cm. Bahkan uangnya sekitar 300 juta habis karena salah beli mesin. Ditipu supplier.

“Kalau dibikin stres ya stres. Yang penting berusaha ikhlas,” tuturnya.

Hari juga mengatakan, seorang pengusaha itu harus berani mengambil keputusan. Berani mengambil resiko dan siap untuk rugi. Karena menurutnya bisnis tidak semua akan menghasilkan keuntungan, tetapi kalau tidak memulai bisnis, pasti tidak akan pernah untung.

“Untuk membesarkan bisnis, apa mas Hari menggunakan pinjaman bank seperti kebanyakan pengusaha lain,” tanya kami.

“Alhamdulillah sampai detik ini sampai detik ini tidak punya hutang, tidak ada penambahan modal dari luar,” jawab pria yang bercita-cita menjadi pilot ini.

Keengganannya berhubungan dengan bank merupakan buah dari didikan ayahnya. Menurut Hari, dulu ayahnya sering bilang, kalau tidak mempunyai uang harus menerima apa adanya saja. Jangan tergiur untuk berbuat melebihi kemampuan.

Kenangan lain yang masih melekat di hati Hari adalah kenangan berjalan-jalan di pasar loak Gembong. “Dulu kalau lagi sepi sering ke sana mas. Kangen masa-masa seperti itu,” tuturnya.

Menutup pembicaraan dengan kami, Hari memberi nasihat bagi yang berniat berbisnis dibidang digital printing. Menurutnya bisnis ini termasuk kejam. Dulu margin bisa 300 persen. Modal 20 ribu bisa dijual 60 ribu. Sekarang margin hanya 30 persen. Cara bertahan menurut Hari adalah memperbaiki pelayanan. Selain itu tantangan yang terberat selain kompetitor adalah sumber daya manusia.

“Kalau anak muda sekarang suka yang instan, kurang mau kerja keras. Tidak kompetitif,” tutupnya

Setelah perjuangan panjang, kini karyawan Smile Printing berjumlah 125 orang. Memiliki 2 cabang dengan omzet miliaran. Masya Allah.

KOMENTAR