(Merujuk pada Kitab "Sifat Shalat Nabi ﷺ, Seakan-akan Anda Menyaksikannya, karya : Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani)

أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

رَِبِّيْ زِدْنِي عِلْماً وَارْزُقْنِي فَهْمًا


※ Sub Bab : Niat dan Takbir

Niat.

Rasulullah ﷺ bersabda,

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya seseorang hanya mendapatkan apa yang dia niatkan. (HR. Bukhari & Muslim).

Tempat niat adalah di dalam hati, dan An Nawawi berkata,”Tidak ada khilaf dalam hal ini.” Ibnu Taimiyyah mengatakan,”Niat tidaklah dilafalkan.” Maka jelas bagi kita bahwa niat adalah amalan hati dan bukan amalan dzahir.

Niat adalah maksud dan keinginan dalam hati. Niat adalah pembeda antara suatu amalan dengan amalan lainnya. Niat membedakan antara suatu kebiasaan dengan suatu ibadah.

Tidur, adalah suatu amalan yang telah yang menjadi kebiasaan. Tidur akan bernilai ibadah apabila diawali dengan adanya niat untuk menjalankan suatu amalan yang bernilai pahala di sisi Allah ﷻ dengan mengikuti tata cara yang telah disunnahkan Rasulullah ﷺ.

Lalu bagaimana niat dalam sholat, apakah perlu dilafalkan (diucapkan) atau tidak ?

Imam Syafi'i berkata bahwa, "Tidak sah sholat, kecuali dengan melafalkan niat."

Imam An-Nawawi (murid Imam Syafi'i) memaknai ucapan Imam Syafi'i tentang 'melafalkan niat' tersebut, yaitu dengan mengucapkan takbiratul ihram (kalimat "Allahu Akbar" pada gerakan pertama dalam sholat).

Pembuktian mengenai hal ini, yang pertama, bahwa hal ini (melafalkan niat) tidak dicontohkan oleh Nabi ﷺ , tidak pula para sahabat beliau, dan tidak terdapat hadits dari Nabi ﷺ yang menjelaskan bahwa jika beliau hendak shalat atau berwudhu beliau mengucapkan, “Nawaitu an ushalli…(aku berniat untuk sholat…)” atau “Nawaitu an atawadhdha’…(Aku berniat untuk wudhu…)” atau “Nawaitu an aghtasil…(Aku berniat untuk mandi)” dan sebagainya.

Yang kedua, jika seseorang akan mengerjakan sholat ashar pada waktunya, kemudian ketika akan takbiratul ihram dia mengucapkan lafal niat sholat dhuhur, hal ini tidak mengapa dan tidak membatalkan sholat, asalkan memang di dalam hatinya memang sebenarnya berniat akan mengerjakan sholat ashar.

Yang ketiga, bahwa pengucapan niat di awal sholat, justru akan mengganggu kekhusyu'an sholat, karena pengucapan niat tersebut malah membuat orang tidak yakin atas apa yang akan dilakukannya, di sisi lain jika pengucapannya cukup keras bisa mengganggu jamaah lainnya. 

 

Takbir.

Beliau ﷻ membuka sholat dengan ucapan takbir "Allahu Akbar" (Allah Maha Besar).

Beliau ﷺ memerintahkan orang yang melakukan sholat secara tidak benar (al-Musi' Shalatahu) untuk mengucapkannya, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, dan beliau bersabda kepadanya, "Sesungguhnya tidak sempurna sholat seseorang hingga ia berwudhu, lantas meletakkan wudhu sesuai tempatnya (berwudhu secara sempurna), kemudian ia mengucapkan 'Allahu Akbar'." (HR. Ath-Thabrani, shahih).

Beliau ﷺ juga bersabda, "Kunci sholat adalah bersuci, tahrimnya adalah ucapan takbir, dan tahlilnya adalah ucapan salam." (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, al-Hakim, shahih).

"Beliau ﷺ mengeraskan suara beliau dengan ucapan takbir sehingga dapat memperdengarkan(nya) untuk para makmum di belakang beliau." (HR. Ahmad & Al-Hakim, shahih).

"Jika Beliau ﷺ sakit, Abu Bakar رضي الله عنه mengeraskan suaranya untuk memperdengarkan takbir Beliau ﷺ bagi orang-orang (makmum)." (HR. Muslim & An-Nasa'i).

 

Berikut beberapa tata cara (kaifiyah) sholat yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ :

Beliau ﷺ mengangkat tangan terkadang bersamaan dengan takbir, terkadang setelahnya dsn terkadang pula sebelumnya.

Jari-jemari direntangkan (tidak direnggangkan antara jari dan juga tidak mengepalkannya).

Tangan Beliau ﷺ diangkat sejajar kedua pundak, terkadang sejajar daun telinga.

Tangan kanan diletakkan di atas tangan kiri (bersedekap).

Tangan diletakkan di dada. Tangan kanan di atas punggung telapak tangan kiri, pergelangan tangan kiri dan lengan bawah kirinya. Terkadang pula Beliau ﷺ menggenggam tangan kiri dengan tangan kanannya.

Beliau melarang bertolak pinggang (ikhtishar) dalam sholat, yaitu seperti bentuk penyaliban.

Ketika Sholat, Beliau ﷺ menundukkan kepala dan mengarahkan pandangan ke tanah.

Beliau ﷺ melarang menatap ke atas (langit) ketika sedang sholat dan juga menoleh.

Beliau ﷺ melarang tiga hal dalam sholat : Sujud seperti posisi ayam mematuk (gerakannya cepat dan tidak khusyu'), duduk iq'a (duduk seperti duduknya anjing), dan menoleh seperti cara musang menoleh.

Dilarang oleh Beliau ﷺ untuk sholat dengan menggunakan pakaian yang bergambar/bermotif/bertulisan, yang dapat mengganggu kekhusyu'an sholat.

Diperbolehkan oleh Beliau ﷺ untuk mendahulukan makan apabila sudah tersaji/dihidangkan hingga tertinggal sholat berjamaah, walaupun hal ini bukan untuk menjadi suatu kebiasaan.

Diperbolehkan pula oleh Beliau ﷺ untuk membatalkan sholat dengan tidak menahan buang air kecil, buang air besar dan buang angin.


Wallahu Ta'ala A'lam.


Bersambung, إِنْ شَاءَ اللّهُ...


والله أعلمُ بالـصـواب

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إليكَ


Kajian Islam Rutin Gohijrah
Gohijrah - Jl. Diponegoro No. 39 Surabaya
Oleh : Ustadz Andy Fahmi Halim, Lc, MH
Kamis, 21 Jumadil Awal 1441 H (16 Januari 2020)

(Diringkas oleh : Isfanz Rozyn - Gohijrah)

KOMENTAR