Karena Ustadz Dr Syafiq Riza Basalamah sedang berhalangan, kajian kali ini diganti oleh Ust. Dr. Muhammad Arifin Badri

Jumat, 1 Safar 1442 H / 18 September 2020, Online via Zoom Meeting

 

Kita sebagai manusia tidak bisa hidup sendirian, manusia memiliki kewajiban untuk beramar maruf dan nahi munkar, tolong menolong terhadap sesama.

Akhir-akhir ini kita sedang diuji dengan wabah, para dokter dan tenaga medis sebagai garda terdepan yang berjuang secara langsung menanganinya, harus terus menjaga semangatnya dan meluruskan niat dalam menjalankan tugas mulianya tersebut.

Allah Maha berkuasa atas segala suatu, bahkan Allah mengetahui daun yang gugur dari pohonnya. Peristiwa yang kita alami saat ini merupakan bagian dari ketetapan yang Allah tuliskan sejak 50 ribu tahun sebelum penciptaan alam semesta.

Ibnu Abbas رضي الله عنه pernah mendapat wasiat dari Rasulullah ﷺ.

Abdullah bin ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma– menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi ﷺ. Beliau bersabda, “Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. Tirmidzi, Ahmad)

Nabi Musa عليه السلام dalam kondisi genting ketika terdesak di antara tepi lautan merah dan kejaran pasukan Fir'aun, tetap bersikap tenang dan memasrahkan nasibnya sepenuhnya kepada Allah, kemudian datanglah jalan keluar dari Allah yang menyelamatkannya beserta Bani Israil.

Para dokter dan tenaga medis hendaknya bersikap sedemikian, sebagaimana Nabi Musa عليه السلام diperintahkan Allah memukulkan tongkatnya ke lautan. Allah tidak mengubah air laut menjadi batu, tetapi Allah menjadikannya terbelah menjadi gunungan air dan menjadikan diantaranya jalan yang bisa dilewati oleh Nabi Musa عليه السلام dan kaumnya.

Marilah kita buka mata kita lebar-lebar, bahwa dunia ini adalah milik Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, kekhawatiran akan terjangkiti wabah covid, banyaknya pasien yang terkena dan akhirnya mati, belum ditemukannya vaksin, semuanya adalah bagian dari ketetapan Allah. Semuanya terjadi atas ijin Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى.

Nabi Ibrahim عليه السلام dalam Al Qur’an berkata,
وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ
“Dan apabila aku sakit. Dialah (Allah) yang menyembuhkanku” (As Syu’araa: 80)

Sekarang semuanya kembali kepada diri kita sendiri, bagaimana kita berserah diri kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, dan menyadari bahwa Allah-lah satu-satunya tempat untuk kita memasrahkan segala urusan kita, dan Yang Mampu memberikan jalan keluar bagi kita.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَاِ نَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّا رِ وَاُ دْخِلَ الْجَـنَّةَ فَقَدْ فَا زَ  ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۤ اِلَّا مَتَا عُ الْغُرُوْرِ
"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 185)

Kita semua terkadang mengira bahwa kita akan hidup selama-lamanya di dunia dan lalai bahwa semuanya kelak akan mati, sampai pula kita lalai mempersiapkan lima perkara sebelum datangnya lima perkara.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ pernah menasehati seseorang,

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara :
1. Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,
2. Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,
3. Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,
4. Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu,
5. Hidupmu sebelum datang matimu.”
(HR. Al Hakim)

Yang kelak akan mengantarkan kita ke dalam liang kubur ada tiga hal : Harta, keluarga dan amalan. Sejatinya yang menjadi kawan kita kelak adalah amalan kita selama hidup, sedangkan harta, anak dan keluarga kelak bisa menjadi musuh bagi kita di hari perhitungan.

Kenikmatan sejati dalam hidup kita adalah iman, maka beruntunglah bagi orang yang dikaruniai Allah nikmat iman dalam hatinya.

(Diringkas oleh : Isfanz - Gohijrah)

KOMENTAR